Rabu, 11 Februari 2015

tulisan : jika calon istrimu lulusan SMK



aku adalah perempuan tamatan sekolah menengah farmasi, setelah lulus sekolah aku bekerja sebagai Asisten apoteker  hanya  dua minggu saja aku bekerja di klinik dekat sekolahku, setelah itu aku mencoba merantau ke provinsi lain bekerja di sebuah pabrik sepatu kulit sebagai QC (Quality Control) dan itu bertahan 6 bulan saja,  aku memutuskan pulang dan menjadi pengangguran beberapa bulan.   

ga lama setelah itu aku kembali bekerja sebagai Asisten apoteker lagi di klinik, kali ini di kilinik yang dekat rumah. Dan lagi, ga lama hanya sampai 3 bulan saja, selanjut nya aku kembali merantau ke pulau lain.

Bukan soal apa aku bekerja secara nomaden, aku hanya merasa harus banyak memperluas pengalaman untuk mengembangkan diri,  terlepas karena lulusan SMK, no matter at all. Tetap ilmu dasar farmasi sampai sekarang masih aku pelajari tidak sampai hati aku lupakan begitu saja walau kerjaanku sekarang sama sekali tidak membutuhkan dasar-dasar ilmu kefarmasian sedikitpun.


Sekarang, apa yang terlintas di pikiranmu  jika calon istrimu kelak hanya tamatan SMK? Mungkin kamu malu jika di undangan pernikahan kita tidak tertera embel-embel lulusan Sarjana di belakang  namaku nanti
ketahuilah sayang, bahwa yang aku tulis di paraghraf sebelum nya adalah benar, aku adalah calon istrimu seorang tamatan SMK

walau begitu aku bisa bermultifungsi, aku bisa menjadi suster pribadimu, yang merawat mu dan anak-anak, bisa menjadi bendahara sekaligus sekretaris yang mengatur semua asset mu dan selalu mengingatkan jadwal kerja mu  juga menyiapkan segala sesuatunya, aku bisa juga menjadi arsitek dekorasi rumah akan aku tata hingga rapih dan nyaman untuk kita istirahat santai dan anak-anak bermain, aku akan menjadi ibu dan istri yang aku impi-impikan :)

sebisa mungkin aku mengimbangi mu, berwawasan dengan ilmu yang aku dapat  dari pengalaman meski bukan dari universitas. Tentu pengetahuan ku tidak sebanding dengan mereka yang hanya duduk mendengarkan dosen berceramah. 

Maka, jadilah guruku yang sabar mengajarkan ilmu yang belum aku pahami sebelum nya yang masih belum aku mengerti. karena ajaranmu itu aku akan mudah beradaptasi dg masalah problematika rumahtangga

yaa semua ada cara nya, seperti mencintaimu. Aku akan mencintaimu seperti cara ibumu. Aku akan mendo’akanmu walau kau jauh dariku, aku akan percaya padamu bahwa saat kamu tidak di dekatku hanya aku yang ada di hatimu, menemanimu dari musim kemarau, hujan hingga kemarau lagi, dari tidur di tikar, spring bed sampai kembali ke tikar lagi. kamu tahu dear? aku akan senang sekali jika menemani mu melalui proses kemapanan bersama. Karena aku tahu apa yang kamu yakini bahwa “kemapanan adalah harga diri seorang laki-laki”

Dari aku yang kelak selalu mengaminkan do’a mu sehabis shalat bersama, wanita yang berada di shaf belakangmu, dan yang kau sebut namanya di Ijab Qabul seumur hidupmu itu :D



Tidak ada komentar:

Posting Komentar