aku adalah perempuan tamatan sekolah menengah farmasi,
setelah lulus sekolah aku bekerja sebagai Asisten apoteker hanya dua minggu saja aku bekerja di klinik dekat
sekolahku, setelah itu aku mencoba merantau ke provinsi lain bekerja di sebuah
pabrik sepatu kulit sebagai QC (Quality Control) dan itu bertahan 6 bulan saja,
aku memutuskan pulang dan menjadi
pengangguran beberapa bulan.
ga lama
setelah itu aku kembali bekerja sebagai Asisten apoteker lagi di klinik, kali
ini di kilinik yang dekat rumah. Dan lagi, ga lama hanya sampai 3 bulan saja,
selanjut nya aku kembali merantau ke pulau lain.
Bukan soal apa aku bekerja secara nomaden, aku hanya merasa harus banyak memperluas pengalaman untuk mengembangkan
diri, terlepas karena lulusan SMK, no matter at all. Tetap ilmu dasar
farmasi sampai sekarang masih aku pelajari tidak sampai hati aku lupakan begitu
saja walau kerjaanku sekarang sama sekali tidak membutuhkan dasar-dasar ilmu kefarmasian sedikitpun.
Sekarang, apa yang terlintas di pikiranmu jika calon istrimu kelak hanya tamatan
SMK? Mungkin kamu malu jika di undangan pernikahan kita tidak tertera
embel-embel lulusan Sarjana di belakang namaku nanti
ketahuilah sayang, bahwa yang aku tulis di paraghraf sebelum
nya adalah benar, aku adalah calon istrimu seorang tamatan SMK
walau begitu aku bisa bermultifungsi, aku bisa menjadi
suster pribadimu, yang merawat mu dan anak-anak, bisa menjadi bendahara
sekaligus sekretaris yang mengatur semua asset mu dan selalu mengingatkan jadwal
kerja mu juga menyiapkan segala
sesuatunya, aku bisa juga menjadi arsitek dekorasi rumah akan aku tata
hingga rapih dan nyaman untuk kita istirahat santai dan anak-anak bermain, aku
akan menjadi ibu dan istri yang aku impi-impikan :)
sebisa mungkin aku mengimbangi mu, berwawasan dengan ilmu
yang aku dapat dari pengalaman meski
bukan dari universitas. Tentu pengetahuan ku tidak sebanding dengan mereka yang
hanya duduk mendengarkan dosen berceramah.
Maka, jadilah guruku yang sabar mengajarkan ilmu yang belum aku
pahami sebelum nya yang masih belum aku mengerti. karena ajaranmu itu aku akan mudah
beradaptasi dg masalah problematika rumahtangga
yaa semua ada cara nya, seperti mencintaimu. Aku akan
mencintaimu seperti cara ibumu. Aku akan mendo’akanmu walau kau jauh dariku,
aku akan percaya padamu bahwa saat kamu tidak di dekatku hanya aku yang ada di
hatimu, menemanimu dari musim kemarau, hujan hingga kemarau lagi, dari tidur di
tikar, spring bed sampai kembali ke tikar lagi. kamu tahu dear? aku akan senang
sekali jika menemani mu melalui proses kemapanan bersama. Karena aku tahu apa
yang kamu yakini bahwa “kemapanan adalah harga diri seorang laki-laki”
Dari aku yang kelak selalu mengaminkan do’a mu sehabis
shalat bersama, wanita yang berada di shaf belakangmu, dan yang kau sebut
namanya di Ijab Qabul seumur hidupmu itu :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar