Kamis, 12 Februari 2015

cerita lalat

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di
atas sebuah tong sampah di depan sebuah
rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar
dan tidak menutup kembali pintu rumah.
Kemudian nampak seekor lalat bergegas
terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung
menuju sebuah meja makan yang penuh dengan
makanan lezat.


“Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini
saatnya menikmati makanan segar,” katanya.
Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar
dan terbang menuju pintu saat dia masuk,
namun ternyata pintu kaca itu telah terutup
rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu
memandangi kawan-kawannya yang melambai-
lambaikan tangannya seolah meminta agar dia
bergabung kembali dengan mereka.


Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali
melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak
kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari
pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca
dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan
bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-
ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak
kelelahan dan kelaparan. Esok paginya, nampak
lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.


Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan
semut merah berjalan beriringan keluar dari
sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika
menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak
mereka mengerumuni dan beramai-ramai
menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan
semut itu pun beramai-ramai mengangkut
bangkai lalat yang malang itu menuju sarang
mereka.


Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya
kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa
dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?”
“Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati
sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah
berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang
keras berusaha keluar dari pintu kaca itu.


Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar,
dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh
sekarat dan menjadi menu makan malam kita.”
Semut kecil itu nampak manggut-manggut,
namun masih penasaran dan bertanya lagi,
“Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu
sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?”
Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai
lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu adalah
seorang yang tak kenal menyerah dan telah
mencoba berulang kali, hanya saja dia
melakukannya dengan cara-cara yang sama.”
Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya
berhenti sejenak seraya melanjutkan
perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan
nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu
melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi
mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib
kamu akan seperti lalat ini.”



"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang
berbeda, mereka hanya melakukannya dengan
cara yang berbeda


 sumber: unknow

Tidak ada komentar:

Posting Komentar