Saat seorang ibu tak bisa menyediakan rumah bagi anaknya, maka pada
ibunya lah sang anak merasa di rumah. Ibu bahkan lebih kuat dari sebuah rumah.
Hello mami
apa dirimu juga merasakan apa yang dirasakan aku saat ini? aku rinduuu sekali, tapi kerinduan ini tidak dengan harus cepat membawaku untuk
segera pulang dan menemuimu. Sungguh ini bukan soal memilih antara mami dan
kerjaan, ada tanggungjawab yang harus diselesaikan disini.
Mohon maafkan
anak gadis satu-satunya mu ini.
Terimakasih untuk semua wejangan lewat telephone ketika aku sedang butuh dan saat tidak butuh dinasehati
aku harus mandiri, aku paksakan mandiri. Aku jatuh, aku
seret kaki ini untuk kembali melangkah melanjutkan perjalanan
Tidak mau berada terus di pelukanmu,
aku harus melepaskan sentuhan tanganmu yang dulu ditiap hari membelaiku
Takut hal itu akan menjadikan aku
terus bergantung padamu. Bagaimana jika tuhan memanggilmu lebih cepat sebelum
aku bisa berdiri sendiri di atas kaki ku, mam?
malam itu, engkau menemaniku tidur sebelum esok pagi harinya aku
kembali ke kota perantauan. Hati kita Seperti saling tahu berat rasa kembali untuk meninggalkan dan ditinggalkan.
kita sama-sama diam dan mencoba memaksakan mata untuk terpejam, Hanya hati kita yang tahu ketidakrelaan itu. Jangan gelisah, do’a mami akan selalu menjagaku
ingat dulu, ketika
aku kecil ketika engkau ada waktu menemaniku tidur engkau dengan senang hati menyanyikan lagu “si indung-indung” favoritku
engkau penyanyi papan ranjang Atas di mataku, hihi
bukan hanya penyanyi, engkau juga koki, motivator, tukang make up, penjahitku, suster untukku, penggemarku engkau adalah malaikat berwujudku
Love u mam
Aku tulis lirik lagu yang dulu sering dengan gratis mami nyanyikan.
Hujan di udik di sini mendung
Anak siapa pakai kerudung
Mata melirik kaki kesandung”
“aduh-aduh siti Aisyah
Mandi di kali rambutnya basah: Tidak sembayang tidak puasa
Di dalam kubur mendapat siksa”
Note : aku akan meneruskan ke anak-anakku nanti ah 😊

Tidak ada komentar:
Posting Komentar