Jumat, 26 Desember 2014

menjadi matahari


Masing-masing kita adalah matahari. Matahari di kehidupannya masing-masing. Mungkin ada dari kita yang merasa hidupnya sangat gelap. Terpuruk. Merasa tidak lebih cerah daripada orang lain. Perasaan seperti itu hadir hanya karena kita tidak bersyukur dan kita membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain.

Dimana-mana yang namanya membanding-bandingkan itu tidak enak, apalagi dibanding-bandingkan. Dan itu kita lakukan pada diri kita sendiri. Sudah subjeknya kita, objeknya juga kita. Sungguh mengenaskan.

Masing-masing kita adalah matahari dalam hidup kita sendiri. Hidup kita hendak gelap gelisah ataupun cerah ceria itu juga kita yang mewujudkannya. Matahari itu adalah hati dan pikiran kita. Bila kita enggan bersinar, ya sudah. Gelap sudah hidup kita.

Masing-masing kita punya tanggungjawab atas hidup kita sendiri. Skripsi, tugas akhir, sekolah, kuliah, masa lalu, dan hal-hal lain yang menjadi tugas kita harus kita kerjakan sendiri. Kita harus paham bahwa tidak akan ada orang lain yang mau mengerjakan skripsi kita, tugas akhir kita, pergi sekolah untuk kita, dan lain-lain. Kita harus menyelesaikannya sendiri, mengerjakannya sendiri. Sebab itu untuk diri kita sendiri.

Mari kita terangi hidup kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa. Untuk diri kita sendiri. Menjadilah seterang-terangnya diri kita. Sebab bila ada orang lain yang cahaya hidupnya redup, kamu bisa menjadi cahaya untuk hidup mereka. Syukur-syukur kita bisa menjadi penerang dan menjadi penuntun arah hidupnya.

Menjadilah seterang-terangnya diri kita sendiri. Sebab dalam terang, kita bisa menemukan banyak hal yang tadinya tersembunyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar