Senin, 24 November 2014

membenci pernikahan

Belum juga hari Sabtu tetapi undangan pernikahan sudah datang, Surat Elektronik dan foto-foto di facebook dipenuhi permintaan doa agar pernikahan kalian bahagia. Namun maaf aku tak bisa menghadiri semua undangan yang kalian berikan. Bukan karena aku tak menghargai atau menghormati kalian, bukan juga karena aku melupakan kalian. Tetapi sudah pernah kukatakan sebelumnya jika aku membenci pernikahan. 

Kalian tentunya tahu itu, ritual basa-basi, perbudakan modern, dan legalitas seksual belaka. Semua itu sudah kuutarakan pada kalian alasannya mengapa. Seharusnya kalian mengerti, tetapi aku tidak ingin menyalahkan. Kalian berhak memberikan surat undangan sejuta kali padaku, pasti tetap kuterima. Namun maaf, aku tak bisa datang.

Aku akan datang ketika kalian sudah memadati dunia, termasuk negara kita, dengan anak-anak kalian. Ketika helai rambut pertama mereka kalian potong, dan suguhan kambing menggantikan doa yang kalian minta lagi padaku. Maaf, aku kena darah tinggi jadi tidak boleh makan kambing. Tapi jangan diambil hati, doa untuk keturunan kalian pasti kuhaturkan. Itu tanda persahabatan, tetapi jangan suruh aku datang dalam pernikahan kalian. Karena aku membenci pernikahan. Semoga kalian mengerti sehingga sadar sendiri untuk tidak lagi mengirimi undangan kehidupan pribadi kalian.
Selain itu aku berucap terima kasih jika kalian hendak mengajakku bergembira bersama, namun banyak orang bilang jika pernikahan adalah hari di mana pengantin bak raja dan ratu. Itu tandanya bahwa pernikahan adalah hari kalian, untuk apa aku ikut campur di hari kalian. Baiklah, aku tahu maksud kalian sangat terpuji. Tapi bagaimana aku bisa bergembira jika sebelumnya aku telah membenci ritual dan seremoni pernikahan. Maaf, bukan maksudku menghina. Cuma lihat saja sendiri, kalian yang pria saling bertransaksi untuk mendapatkan wanita. Ijab qabul dan akad, bukankah itu istilah transaksi dalam jual beli? Memangnya wanita untuk diperjual belikan, tapi mengapa kalian yang wanita begitu mendambakan untuk segera diperjualbelikan oleh sang ayah dan calon menantunya.

Sekali lagi maaf, tentunya kalian sudah pernah mendengar ocehanku seperti ini. Setidaknya untuk menguatkan prinsipku saja yang tak mau datang ke pernikahan kalian.

Kuharap kalian mau mengerti.
 

@wordpress
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar