Belum juga hari Sabtu tetapi undangan
pernikahan sudah datang, Surat Elektronik dan foto-foto di facebook dipenuhi permintaan doa
agar pernikahan kalian bahagia. Namun maaf aku tak bisa menghadiri semua
undangan yang kalian berikan. Bukan karena aku tak menghargai atau
menghormati kalian, bukan juga karena aku melupakan kalian. Tetapi sudah
pernah kukatakan sebelumnya jika aku membenci pernikahan.
Kalian
tentunya tahu itu, ritual basa-basi, perbudakan modern, dan legalitas
seksual belaka. Semua itu sudah kuutarakan pada kalian alasannya
mengapa. Seharusnya kalian mengerti, tetapi aku tidak ingin menyalahkan.
Kalian berhak memberikan surat undangan sejuta kali padaku, pasti tetap
kuterima. Namun maaf, aku tak bisa datang.
Aku akan datang ketika kalian sudah
memadati dunia, termasuk negara kita, dengan anak-anak kalian. Ketika
helai rambut pertama mereka kalian potong, dan suguhan kambing
menggantikan doa yang kalian minta lagi padaku. Maaf, aku kena darah
tinggi jadi tidak boleh makan kambing. Tapi jangan diambil hati, doa
untuk keturunan kalian pasti kuhaturkan. Itu tanda persahabatan, tetapi
jangan suruh aku datang dalam pernikahan kalian. Karena aku membenci
pernikahan. Semoga kalian mengerti sehingga sadar sendiri untuk tidak
lagi mengirimi undangan kehidupan pribadi kalian.
Selain itu aku berucap terima kasih jika
kalian hendak mengajakku bergembira bersama, namun banyak orang bilang
jika pernikahan adalah hari di mana pengantin bak raja dan ratu. Itu
tandanya bahwa pernikahan adalah hari kalian, untuk apa aku ikut campur
di hari kalian. Baiklah, aku tahu maksud kalian sangat terpuji. Tapi
bagaimana aku bisa bergembira jika sebelumnya aku telah membenci ritual
dan seremoni pernikahan. Maaf, bukan maksudku menghina. Cuma lihat saja
sendiri, kalian yang pria saling bertransaksi untuk mendapatkan wanita.
Ijab qabul dan akad, bukankah itu istilah transaksi dalam jual beli?
Memangnya wanita untuk diperjual belikan, tapi mengapa kalian yang
wanita begitu mendambakan untuk segera diperjualbelikan oleh sang ayah
dan calon menantunya.
Sekali lagi maaf, tentunya kalian sudah
pernah mendengar ocehanku seperti ini. Setidaknya untuk menguatkan
prinsipku saja yang tak mau datang ke pernikahan kalian.
Kuharap kalian mau mengerti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar